↩ Blog
9 MENIT BACA
PENDAPATAN

Okupansi adalah? Cara menghitung okupansi, ADR dan RevPAR hotel

Okupansi adalah persentase kamar terjual dari kamar tersedia. Baca bersama ADR dan RevPAR sebelum mengubah harga.

Tambahkan Kiyo ke sumber pilihan di Google
Teras hotel dengan pemandangan kota saat senja

Okupansi adalah persentase kamar yang terisi atau terjual dari semua kamar yang tersedia dalam satu periode. Dalam KBBI, okupansi berarti hunian. Rumusnya: malam kamar terjual dibagi malam kamar tersedia, lalu dikali 100. Guesthouse 10 kamar yang menjual 7 kamar malam ini punya okupansi 70%.

Hotel terlihat ramai, tetapi pemilik kecewa dengan pendapatan kamar. Resepsionis menunjukkan okupansi yang tinggi. Manajer menunjukkan tarif rata-rata. Kedua angka benar, tetapi masing-masing belum menjelaskan hasil secara utuh.

Okupansi, ADR, dan RevPAR hotel menjawab pertanyaan berbeda. Baca ketiganya bersama sebelum menyimpulkan bahwa hotel ramai tidak perlu meninjau harga. Tarif rata-rata yang naik juga belum tentu berarti bulan ini membaik. Periksa ketiga ukuran itu bersama data kamar dan channel, dengan periode dan definisi yang sama.

Mulailah dengan menetapkan satu periode, dasar pendapatan kamar yang konsisten, dan malam kamar mana saja yang dihitung. Setelah itu, tanyakan apa yang berubah dan mengapa.

Okupansi adalah apa, dan bagaimana cara menghitungnya?

Okupansi menjawab satu pertanyaan sederhana: dari semua kamar yang bisa dijual, berapa bagian yang benar-benar terisi? Badan Pusat Statistik (BPS) memakai ukuran yang sama dengan nama Tingkat Penghunian Kamar (TPK) (membuka tab baru). Definisinya: malam kamar yang dihuni dibagi malam kamar yang tersedia.

Cara menghitung okupansi hotel dalam tiga langkah:

  1. Hitung malam kamar tersedia: jumlah kamar yang bisa dijual dikali jumlah malam.
  2. Hitung malam kamar terjual atau terisi pada periode yang sama.
  3. Bagi angka kedua dengan angka pertama, lalu kali 100.

Contoh: villa dengan 4 unit selama 30 malam punya 120 malam unit tersedia. Jika 84 malam terjual, okupansinya 84 dibagi 120, yaitu 70%. Rumus ini berlaku untuk hotel, villa, guesthouse, dan homestay. Hostel yang menjual per tempat tidur bisa memakai tempat tidur sebagai satuan, asal satuannya tidak berganti antarperiode.

Bagian tersulit bukan rumusnya. Bagian tersulit adalah memutuskan kamar mana yang masuk hitungan. Tetapkan aturannya sekali, lalu pakai terus.

Situasi kamarMasuk malam terjual?Masuk malam tersedia?Yang perlu pemilik putuskan
Kamar berbayar yang ditempatiYaYaTidak ada, ini dasar hitungan
Kamar gratis untuk keluarga atau tamu promosiTetapkan satu aturanYaCatat terpisah agar ADR tidak turun tanpa alasan
Kamar rusak atau sedang diperbaikiTidakTetapkan satu aturanKeluarkan atau tetap hitung, tetapi sama setiap bulan
No-show yang tetap membayarTetapkan satu aturanYaSamakan dengan cara pendapatan dicatat
Booking yang dibatalkanTidakYaKamar kembali bisa dijual, jadi tetap tersedia

Tabel ini bukan aturan resmi. Gunanya agar tim memakai dasar yang sama saat membandingkan minggu, bulan, atau tahun.

Lihat kalender kamar di demo Kiyo

Tiga ukuran untuk tiga pertanyaan

Okupansi menunjukkan bagian kapasitas kamar tersedia yang terjual atau ditempati sesuai definisi laporan. ADR atau average daily rate menunjukkan pendapatan kamar rata-rata per malam kamar terjual. RevPAR atau revenue per available room menggabungkan pengaruh tarif dan okupansi.

Untuk contoh kamar berbayar sederhana di artikel ini:

UkuranPerhitunganPertanyaan yang dijawab
OkupansiMalam kamar terjual dibagi malam kamar tersedia, lalu dikali 100Berapa bagian kapasitas yang terjual?
ADRPendapatan kamar dibagi malam kamar terjualBerapa pendapatan rata-rata setiap malam yang terjual?
RevPARPendapatan kamar dibagi malam kamar tersediaBerapa pendapatan yang dihasilkan seluruh kapasitas tersedia?

RevPAR juga dapat dihitung dengan mengalikan ADR dan okupansi dalam bentuk desimal. Untuk okupansi 75%, gunakan 0,75, bukan 75.

Ketiga rumus ini menjelaskan kinerja kamar. Rumus ini belum memperhitungkan biaya operasional, dan tidak membuktikan bahwa tamu sudah membayar. Panduan pendapatan, arus kas, dan laba hotel (membuka tab baru) menjelaskan pertanyaan keuangan yang berbeda itu.

Hitung malam kamar, bukan jumlah booking saja

Satu booking tidak sama dengan satu malam kamar. Satu kamar selama tiga malam menghasilkan tiga malam kamar. Dua kamar selama satu malam menghasilkan dua malam kamar, asalkan laporan mencatat kedua kamar dengan benar.

Perbedaan ini penting saat membandingkan minggu dengan lama menginap berbeda. Sepuluh booking dapat mewakili sepuluh malam kamar atau jauh lebih banyak. Pendapatan dibagi jumlah booking menghasilkan nilai booking rata-rata, bukan ADR.

Kapasitas tersedia juga membutuhkan periode. Hotel dengan 20 kamar tersedia selama tujuh malam punya 140 malam kamar tersedia. Memakai angka 20 sebagai pembagi pendapatan mingguan akan menghasilkan ukuran yang keliru.

Periksa bagaimana laporan memperlakukan kamar rusak, menginap gratis, pembatalan, no-show, dan kamar yang sementara ditutup. Jangan mengubah cara hitungnya antarperiode hanya karena angkanya jadi terlihat lebih bagus. Laporan berbeda dapat memakai aturan berbeda, jadi baca dasarnya sebelum membandingkan.

Contoh berikut menganggap seluruh 20 kamar tersedia selama tujuh malam. Semua malam terjual berbayar, tanpa pembatalan atau kamar gratis. Asumsi ini hanya untuk memperjelas hitungan, bukan gambaran hotel pada umumnya.

Contoh hitungan: satu minggu di hotel fiktif

Misalkan sebuah hotel independen di Indonesia punya 20 kamar tersedia selama tujuh malam. Hotel menjual 105 malam kamar dan mencatat pendapatan kamar Rp84.000.000 dengan dasar hitungan yang sama. Angka ini fiktif untuk pembelajaran, bukan hasil pelanggan Kiyo atau patokan pasar.

Kapasitas tersedia adalah 20 dikali tujuh, yaitu 140 malam kamar.

Okupansi adalah 105 dibagi 140, yaitu 75%.

ADR adalah Rp84.000.000 dibagi 105, yaitu Rp800.000.

RevPAR adalah Rp84.000.000 dibagi 140, yaitu Rp600.000. Hasilnya sama jika Rp800.000 dikalikan 0,75.

Ketiganya menggambarkan minggu yang sama. Hotel menjual tiga perempat kapasitas, menerima rata-rata Rp800.000 per malam terjual, dan menghasilkan Rp600.000 per malam tersedia.

Sekarang lihat minggu fiktif kedua dengan kapasitas sama. Hotel menjual 98 malam kamar pada ADR Rp900.000. Okupansi menjadi 70%, pendapatan kamar Rp88.200.000, dan RevPAR Rp630.000.

Okupansi turun, tetapi pendapatan serta RevPAR naik. Ini belum membuktikan kenaikan harga menyebabkan perbaikan. Komposisi kamar, tanggal, channel, dan permintaan tamu dapat berbeda. Namun, contoh tersebut menunjukkan mengapa okupansi saja tidak cukup untuk menilai hasil pendapatan.

Hotel penuh belum otomatis lebih baik

Okupansi tinggi terasa meyakinkan karena banyak kamar terpakai. Namun, tarif rata-rata yang rendah atau biaya channel yang tinggi dapat tersembunyi di baliknya.

Dalam skenario fiktif lain dengan 140 malam tersedia, hotel menjual 126 malam pada ADR Rp650.000. Okupansi mencapai 90%, tetapi pendapatan hanya Rp81.900.000 dan RevPAR Rp585.000. Hotel lebih sibuk daripada contoh pertama, tetapi pendapatan kamarnya lebih rendah.

Kamar yang lebih banyak terisi juga bisa menambah pekerjaan kebersihan, laundry, sarapan, dan staf. Biaya ini tidak terlihat di ketiga ukuran tersebut. Karena itu, properti lebih penuh belum otomatis memberikan laba lebih baik.

Periksa penyebab sebelum mengubah harga. Apakah ada promosi yang disengaja? Apakah rombongan mengisi tanggal sepi? Apakah lebih banyak kamar berharga rendah yang terjual? Jawaban berbeda membutuhkan keputusan berbeda.

Panduan strategi harga hotel (membuka tab baru) membahas pilihan tersebut. Ketiga ukuran ini membantu Anda menentukan pertanyaan yang perlu dibahas sebelum mengubah harga.

Bandingkan ketiga minggu secara langsung

Minggu fiktifMalam kamar terjual / tersediaOkupansiADRPendapatan kamarRevPAR
A105 / 14075%Rp800.000Rp84.000.000Rp600.000
B98 / 14070%Rp900.000Rp88.200.000Rp630.000
C126 / 14090%Rp650.000Rp81.900.000Rp585.000

Minggu C paling ramai tetapi pendapatan kamarnya paling rendah. Minggu B menjual lebih sedikit malam daripada A tetapi menghasilkan lebih banyak. Sebelum mengubah harga, periksa tanggal, kamar, dan channel yang membuat hasil berbeda. Contoh ini menjelaskan ukuran, bukan bukti bahwa kenaikan harga akan memperbaiki permintaan atau laba.

Pakai polanya untuk menentukan apa yang dicek

Pola yang terlihatKemungkinan artiPemeriksaan berikutnya
Okupansi naik, ADR dan RevPAR turunTambahan permintaan menghasilkan nilai rata-rata lebih rendah per malam tersediaTinjau diskon, komposisi kamar, dan tanggal yang terjual
Okupansi turun, ADR dan RevPAR naikPendapatan per kapasitas naik meski malam terjual berkurangPeriksa apakah pola berulang pada tanggal sebanding
ADR naik, RevPAR turunKenaikan tarif rata-rata belum menutup turunnya kapasitas terjualTinjau tanggal kosong, jenis kamar, dan permintaan booking
Ketiganya membaikKinerja kamar membaik pada dasar yang dipakaiPeriksa biaya channel, pembayaran, dan kapasitas operasi sebelum menyebutnya laba

Ini kemungkinan penjelasan, bukan diagnosis. Angka menunjukkan bagian yang perlu diperiksa, bukan alasan pasti tamu memilih hotel.

Tetapkan satu keputusan yang ingin diambil. Jika akhir pekan kuat tetapi hari kerja lemah, diskon bulanan untuk semua tanggal mungkin tidak menyelesaikan masalah yang sebenarnya. Periksa tanggal dan kamar terkait terlebih dahulu.

Pakai Kiyo untuk menelusuri hasil yang tercatat

Revenue Analytics Kiyo (membuka tab baru) menampilkan okupansi, ADR, RevPAR, pendapatan booking, serta hasil kamar dan channel dalam satu ruang kerja. Pilihan periode dan tampilan perbandingan membantu Anda melihat lebih dari sekadar satu angka total.

Misalnya, hasil minggu yang ramai ternyata mengecewakan. Di Kiyo, tinjau malam terjual dan tarif rata-rata menurut kamar, lalu periksa hasil channel serta komisi tercatat. Mungkin lebih banyak kamar berharga rendah yang terjual, atau satu sumber membawa sebagian besar booking. Itu pertanyaan yang dapat ditelusuri dari catatan, bukan kesimpulan dari okupansi saja.

Dengan begitu, Anda bisa membahas masalah yang lebih tepat dengan tim. Alih-alih meminta diskon untuk seluruh properti, bahas kamar atau channel yang membuat hasil berubah. Resepsionis tidak perlu membuat ringkasan kamar terpisah hanya untuk memulai pembicaraan. Tentu, jawabannya hanya seakurat data booking dan komisi yang tercatat.

Lihat harga per tanggal di demo Kiyo

Mulai dari periode yang ingin dipahami. Baca dasar tanggal pada ukuran, lalu periksa kamar atau channel di balik perubahan. Jangan menganggap semua kartu di dashboard memakai pengelompokan yang sama hanya karena tampil di satu layar.

Booking yang dimulai menjelang akhir bulan dapat berlanjut ke bulan berikutnya. Laporan yang menghitung seluruh booking berdasarkan tanggal datang berbeda dari laporan yang membagi malam terisi ke setiap bulan. Sebelum menghitung ulang ADR dari total pendapatan utama, pastikan malam dan dasar pendapatannya sama.

Ini pertanyaan praktis saat membaca laporan, bukan alasan mengabaikan dashboard. Perbandingan yang jelas lebih berguna daripada angka rapi dari total yang tidak sebanding.

Lihat biaya channel bersama hasil kamar

Dua channel bisa menghasilkan pendapatan kamar bruto sama tetapi biaya komisi berbeda. Perbedaan itu tidak mengubah rumus ADR bruto. Yang berubah adalah nilai bisnisnya bagi hotel.

Angka pendapatan di Kiyo membantu Anda melihat tren per tanggal. Angka itu belum mengurangi seluruh biaya hotel atau membuktikan uang sudah diterima. Pakai angka ini sesuai batasannya, lalu tambahkan catatan biaya dan pembayaran lain untuk keputusan keuangan yang lebih luas.

Panduan biaya OTA dan booking langsung (membuka tab baru) membantu membedakan biaya distribusi dari manfaat menjangkau tamu. Panduan direct booking (membuka tab baru) menjelaskan jalur lain untuk menjual kapasitas kamar yang sama.

Jangan langsung menghapus channel karena ada komisi. Periksa apakah channel membawa permintaan yang bernilai pada tanggal dan kamar yang dibutuhkan, dengan biaya yang Anda pahami.

Permudah tinjauan minggu berikutnya

Sepakati periode dan definisi, lalu pakai terus di setiap tinjauan tim. Hitung rasio dari total satu periode. Rata-rata sederhana dari persentase okupansi atau ADR harian dapat menyesatkan jika jumlah terjual setiap hari berbeda.

Jika tidak ada malam kamar terjual, ADR tidak memiliki pembagi yang bermakna. Jika kapasitas tersedia nol, okupansi dan RevPAR juga tidak bisa dihitung seperti biasa. Catat bahwa datanya tidak ada, dan jangan anggap angka nol di layar sebagai kinerja normal.

Akhiri dengan satu tindakan dan waktu pemeriksaan berikutnya. Tim dapat meninjau penawaran hari kerja, memeriksa hasil satu jenis kamar, atau melengkapi informasi booking. Catat alasan keputusan agar tinjauan selanjutnya dapat menilai apakah masalahnya masih ada.

Kiyo memberi hotel independen satu tempat untuk memulai pembahasan ini. Baca ketiga ukuran bersama, telusuri kamar dan channel, lalu gunakan catatan yang sesuai untuk menilai laba dan kas. Kiyo sudah live dan terbuka untuk semua properti, mulai dari Rp40rb per kamar per bulan. Lihat paket dan harga (membuka tab baru), atau hubungi tim Kiyo (membuka tab baru) lewat WhatsApp untuk setup bersama.

Pertanyaan yang sering

Coba demo harga dan pendapatan Kiyo
Tambahkan Kiyo ke sumber pilihan di Google